Tag


mangulosi

mangulosi

Ternyata acara adat pernikahan batak itu panjang bgt yach, mungkin bukan yang terlama, tapi pastinya buat gw yang jadi juru photo saat itu, ampuuunnnn deh, kaki gw dah mo copot neh…

waktu abang gw nikahan juga lama bgt seh..hehehe photo yang kalian kamu lihat di samping adalah photo nikahan pas temen gw (rosmani dan mangater) ketika sedang menjalani prosesi pengalungan ulos (mangulosi) sebagai simbol kehormatan (namanya juga penganten = raja semalam) dari pihak / kerabat terdekat juga dari perkumpulan-perkumpulan (komunitas) dari marga ke dua belah pihak. Hm…agak bingung ?? mungkin kutipan ini (saya ambil dari http://rumametmet.com/?p=153, dimana penulisnya adalah salah satu orang yang saya kagumi) akan memperjelasnya.

**** mulai kutipan ****

Borhat ma dainang
Tubuan laklak ho inang tubuan sikkoru
Borhat ma dainang
Tubuan anak ho inang tubuan boru
Horas ma dainang
Rongkapmu, helanghi, donganmu sari matua
Horas ma dainang
Di tongan dalan nang dung sahat ho di huta


Reff:
Unang pola tangis ho, ai tibu do ahu ro
Sirang pe ahu sian ho, tondingki gumonggom ho

Mengkel ma dainang
Sai unang tangis ho inang martutungkian
Ingot martangiang
Asa horas hamu na laho nang hami na tinggal

Terjemahan bebas:

Berangkatlah, hai putriku
Melahirkan kulit kayu melahirkan jali-jali
Berangkatlah, hai putriku
Melahirkan anak laki-laki melahirkan anak perempuan
Selamat sejahteralah, kau hai putriku
Jodohmu, menantuku, temanmu bahagia lengkap
Selamatlah, kau putriku
Di tengah jalan dan nanti setelah sampai di kampungmu


Reff:
Tidak usahlah kau menangis, sebab aku akan cepat tiba
Walaupun aku berpisah denganmu, rohku memelukmu.

Tertawalah kau putriku
Janganlah kau menangis sampai merunduk
Ingatlah berdoa
Supaya selamat kalian yang pergi dan kami yang tinggal.

Mungkin dalam komunitas Batak, kesedihan yang berhasil ditimbulkan saat penyampaian ulos (selimut tradisional batak) kepada sang pengantin hanya bisa dikalahkan oleh ritus penyampaian ulos tujung atau kain tudung di peristiwa kematian. Yaitu ulos bernama sibolang dan berwarna biru gelap yang ditudungkan ke kepala seorang yang kematian suami atau istri sebagai tanda resmi menjadi janda/ dua. (Catatan: jaman dahulu di beberapa daerah raja-raja yang selalu punya istri lebih dari satu menolak menerima ulos tujung). Namun jika ulos pengantin diiringi lengkingan menyayat lagu Borhat ma Dainang, maka penyampaian ulos tujung disambut spontan lolongan tangis si janda dan kerabatnya. Tingkat kesedihannya mirip juga dengan ritus perpisahan di pelabuhan Belawan atau Tanjung Priuk saat KM Koan Maru atau Tampomas hendak berlayar. Sebab itu di pesta perkawinan, bukan hanya si ayah atau si ibu pengantin saja berlinangan air mata, tetapi juga semua kerabat dan undangan, bahkan raja-raja parhata yang dua kali seminggu menghadiri peristiwa serupa dengan suguhan menu khusus bir, acapkali juga tidak bisa menahan matanya agar tidak berkaca-kaca. Mengapa bisa?

Menurut penulis mungkin lagu Borhat ma Dainang ini di bawah sadar mengingatkan komunitas Batak kepada masa lalu kaum atau puak-nya dimana pesta perkawinan, terutama dari perspektif perempuan, seringkali sulit dibedakan sebagai puncak kebahagiaan atau justru awal kesengsaraan. Di masa lalu perkawinan bukanlah pilihan tetapi kewajiban. Pasangan hidup juga bukan pilihan pribadi yang bebas, diseleksi lewat masa berpacaran yang indah, tetapi seringkali ketetapan orangtua atau “nasib” yang tidak terelakkan. Jaman itu seorang perempuan yang kawin atau menikah biasanya harus pergi meninggalkan rumah dan kampung marga orangtuanya untuk selanjutnya tinggal di kampung marga suaminya yang jauh dibalik gunung-gunung, dimana sering tak seorang pun dikenal-mengenalnya di sana. Sementara itu penghargaan kepada perempuan sangatlah rendah. Perempuan masih dianggap sebagai objek, manusia kelas dua, alat dan mesin serba guna (pengelola rumah tangga, penerus keturunan, pekerja ladang dan pemuas nafsu seks). Dia mudah sekali menjadi korban kekerasan di rumahnya sendiri dan oleh suaminya sendiri dan dengan alasan tertentu bisa diceraikan atau dikembalikan (dipaulak) ke rumah orangtuanya sebagai janda. Sebab itu perkawinan logis sekali jika dihayati sebagai
kehilangan rasa aman dan nyaman. (Perlu perjuangan berat kelak untuk
mendapatkan kembali rasa aman itu.) Dalam konteks di atas tentu saja pesta perkawinan (bagi perempuan) adalah momen kesedihan atau “takdir” (bagian, jambar, turpuk) yang tidak bisa ditolak.

Adat Batak dari dulu-dulu sampai sekarang menganggap perkawinan adalah perundingan dua marga sehubungan dengan serah-terima seorang perempuan dari marga ayahnya kepada marga suaminya. Sentrum atau pusat pesta adat pernikahan sebab itu bukanlah pengantin tetapi para laki-laki mewakili dua marga yang duduk berhadap-hadapan melakukan perundingan itu, merekalah yang sekarang kerap disebut raja parhata. (Jaman dahulu pengantin disembunyikan dalam rumah ditemani kawan-kawannya jauh dari orang banyak, sementara sekarang dipajang di panggung). Walaupun banyak puak Batak mengingkarinya, namun sulit ditampik bahwa perundingan itu mirip dengan transaksi jual-beli dengan tawar-menawar harga di sana-sini. Istilah-istilah kunci dalam perundingan perkawinan itu adalah gadis (jual), tuhor (beli, harga), pangoli (pembeli), nanioli (yang dibeli), sinamot (pendapatan), upa tulang (komisi paman). Istilah-istilah itu masih dipertahankan sampai sekarang dan pengamatan penulis kayaknya juga belum mengalami perubahan makna secara signifikan.

Mengingat semua hal di atas wajarlah kalau jaman dahulu di kampung, si pengantin perempuan menangis, terutama saat dia diantar oleh kawan-kawan gadisnya ke batas kampung meninggalkan tanah kelahirannya untuk pergi ke dunia asing yang tak terperi. (Dulu konon di kawasan Angkola ada tradisi pengantin perempuan yang baru menikah akan menyanyikan lagu andung-andung atau ratapan saat hendak pergi meninggalkan kampungnya, yang isi pantunnya seakan-akan menyesali ibunya yang “tega” menjualnya demi mendapatkan uang mahar atau sinamot)

**** akhir Kutipan ****

dan memang sih syair lagu diatas emang sedih bgt, apa lagi pas abang gw nikah…tak terasa air mata ini mengalir (heheh, bukannya sok melankolis neh…) but anyway, akhirnya tak seirang sahabat telah maju ke babak lain dalam kehidupannya, ia berani melanakah…

soon after that, setelah rasa letih, gw mencoba melepas penat bersama teman2 yang lain, just relaaaaaaaxxxxxx….

cozy-place

cozy-place

coba lihat deh foto di samping ini, heheh cozy enough kan..??!! niatnya sih emang cuma bersantai aja..tapi cegukan (entah apa bahasa medisnya) melanda gw mulai dari gedung tempat resepsi pernikahan..rese bgt deh, badan gw aja ampe pegel2, dah gitu yang paling menyebalkan adalah orderan makanan, gw ternyata kelupaan di cantumkan, jadi aja yang tadinya gw pesen kwetiaw goreng seafood gak kunjung dateng, pas gw liat di bon pembayaran, siaaaaalll (mode angry = “ON” ) ternyata pesenan gw gak ada, pantesan kok tagihannya lebih sedikit dari perkiraan awal…akhirnya (karena dah malam – dia dah mo tutup-, dan karena gw emang laper bgt) gw langsung pesan lagi orderan yang bisa disajikan paling cepat…Nasi goreng modern yang terpilih (menurut gw sih gak jauh beda ama nasi goreng buatan gw di rumah, tepi yang bikin beda adalah telor dadarnya itu booo…. tebel aja (hapy face = “ON”) secara gw penggemar berat ama telor dadar hehhe..well ini dia some of friends of mine

just relax

just relax

Iklan